Arms of Heaven

 In Catatanku

Di sudut aula, gadis itu duduk di deretan para peserta yang akan tampil pada hari itu. Meremas-remas tangannya yang dingin berusaha membuang rasa gugupnya.

Ya.. hari itu ada lomba “Speech Contest tk. SMA” di kota itu.

Di sebelahnya, duduk peserta lainnya, gadis juga, yang diketahuinya berasal dari sekolah unggulan di kota itu. Berusaha membuang gugup, mencoba berbincang dengan peserta lainnya itu –  sebut saja Kakak – karena dari hasil perbincangan peserta itu lebih tua dua tingkat dibanding gadis itu.

Kakak itu terlihat tenang, sangat tenang, dalam hati gadis itu, ini pasti bukan lomba pertamanya.

Kakak itu tiba-tiba bertanya. “Kamu gugup?”

“Iya..”, jawab gadis itu.

“Kemarikan tanganmu”

Gadis itu menurut, dan Kakak itu menggenggam tangan gadis itu dan berkata “Tangan kamu dingin sekali.. jangan gugup, kamu pasti bisa”

Tiba giliran Kakak itu maju ke panggung, dan memang.. tak usah diragukan lagi, penampilannya dalam Speech Contest itu sangat baik.

Tak lama, tiba giliran gadis itu maju ke depan sebagai kontestan, “Kamu pasti bisa” kakak itu menyemangati gadis itu dari sudut panggung.  Saat di panggung, entah seperti ada rasa hangat menjalar, gadis itu mencoba bilang pada dirinya sendiri ‘kamu bisa, kamu bisa’.. dan akhirnya dia pun menyelesaikan penampilannya. Tepuk tangan riuh, bahkan lebih kencang dari penampilan Kakak itu tadi.

Tahukah teman? Gadis itu saya, ya saya.. cerita saya belum selesai..

 

Saya dulu bersekolah di Sekolah Menengah Atas berasrama di Samarinda  – tepatnya Sekolah Kehutanan Menengah Atas Samarinda (SKMA) – dengan aturan-aturannya yang cukup ketat. Di asrama, kami tidak diperbolehkan memegang ATM, karena memang segala kebutuhan dipenuhi di asrama, dari makan pagi sampai malam. Jadi, uang pribadi digunakan untuk keperluan pribadi saja. Biasanya saya titipkan ATM kepada kakak sepupu saya di luar asrama, dan tiap berapa minggu sekali saya ke tempatnya mengambil uang jika uang saya akan habis.

Hari itu, saya akan keluar ke tempat sepupu saya, dan uang di tangan hanya cukup untuk saya pergi naik angkot ke tempat sepupu saya, setelah itu tidak ada, benar-benar habis. Saya pikir, nanti juga kan mau ambil uang. Sudah agak siang saya keluar waktu itu, keluar masuk kami dari asrama hanya diperbolehkan hari Minggu dan disebut ‘pesiar’ dengan jam yang dibatasi. Tiba di tempat sepupu saya, saya dapati rumahnya kosong, sepertinya sedang keluar, salah saya – saya tidak menghubunginya terlebih dahulu. Mencoba menunggu beberapa lama, di depan rumah, tidak ada tanda-tanda kedatangan.

Teman-teman pasti bertanya, kenapa tak menelpon? Waktu itu belum zaman pegang hp kaya sekarang, saya ga punya hp, kalaupun mau telepon lewat wartel, uang saya sudah tidak ada.

Akhirnya saya coba menunggu di rumah tetangganya, sambil lirik-lirik jam, sudah semakin dekat batas waktu yang diperbolehkan untuk pesiar, sepupu saya tak kunjung datang, kalau saya tidak segera kembali ke asrama, saya terlambat dan pasti kena hukuman.

Memberanikan diri pinjam uang sama tetangganya, hanya untuk naik angkot balik ke asrama. Dipinjamkan uang sama Ibu itu, “Bawa aja nak” kata Ibu itu, setelah saya bercerita kejadiannya – sambil Ibu itu menyerahkan uang ribuan.

Akhirnya saya naik angkot dengan uang pemberian Ibu itu, tetangga sepupu saya. Di angkot seorang Ibu memandangi saya yang berbaju seragam, ya.. memang.. kalau kami ‘pesiar’ tetap harus berseragam.

Ibu itu bertanya, “Kamu sekolah di SKMA, nak?”

“Ya,,Bu” jawab saya

“Anak saya juga sekolah disitu.. Koko Suwandi”

“ohhh Ka Koko, iya Bu, kakak kelas saya”

Ibu Ka Koko turun duluan dari angkot, “Ibu duluan ya..mari!”

“ya, Bu.. mari!”

Sesampainya saya di depan asrama, saya turun dan mau bayar angkot, si sopir bilang sudah dibayar sama ibu yang tadi…

Saya tertegun, belum bilang terima kasih sama Ibu ka Koko.

 

Teman, dua cerita tadi mungkin bagi kalian sederhana, tapi bagi saya itu masih membekas sampai sekarang. Kalau saya flash back, kejadian saya kehabisan uang, kalau saja saya nekat naik angkot balik ke asrama tanpa meminjam uang terlebih dahulu, Tuhan sudah siapkan ‘penolongnya’ buat saya. Siapa yang menduga? Bahkan saya tidak.

 

Tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menolongmu, Dia bisa gerakkan tangan siapa saja untuk menjadi ‘Arms of heaven’, hanya perlu lebih peka dengan pertolongannya. Tak ada yang terlalu kecil, bahkan hanya dengan menggenggam tangan seorang gadis yang gugup luar biasa.

Maukah kamu juga menjadi ‘Arms of heaven’ bagi sesamamu?

 

Note : ka Koko, kalo baca tulisan ini, sampaikan terimakasih saya yang sangat untuk Ibu kaka ^ ^

 

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search